Bali Process

bali process

Bali Process menyatukan para perserta untuk bekerja sama, menjalankan upaya – upaya praktis untuk memberantas penyelundupan dan perdagangan manusia, serta kejahatan transnasional terkait lainnya di wilayah Asia Pasifik dan selebihnya. Bali Process dicetuskan untuk pertama kalinya pada Februari 2002 dalam sebuah konferensi “Regional Ministerial Conference on People Smuggling, Trafficking in Persons and Related Transnational Crime” di Bali. Pada awalnya, agenda dalam Bali Process sangat terfokus kepada aspek – aspek teknis dalam membangun manajemen perbatasan negara anggota serta kapasitas kontrol negara, termasuk didalamnya memperkuat penegakkan hukum dalam kasus – kasus pemalsuan dokumen; pengimplementasian sistem perundang-undangan dan sistem visa termasuk dalam berbagi pengetahuan.

Pada tahun 2007, negara – negara anggota Bali Process memberikan dukungan penuh bagi keanggotaan UNHCR dalam Bali Process. Sejak saat itu, UNHCR menjadi partisipan tetap dan menjadi salah satu anggota Bali Process Steering Group bersama dengan Australia, Indonesia, New Zealand, Thailand, dan International Organization for Migration (IOM).

Saat ini, Bali Process memiliki lebih dari 50 negara anggota dan sejumlah besar organisasi internasional telah menjadi partisipan di dalamnya. Sejak pertengahan 2010, cakupan agenda Bali Process bertambah luas ketika permasalahan pengungsi, pergerakan ireguler dan sekunder menambah permasalahan penyelundupan dan perdagangan manusia. Pada tahun 2009, tepatnya pada Konferensi tingkat Menteri ke-3, Bali Process menghidupkan kembali Kelompok Ad Hoc, dengan tujuan utama untuk “mengembangkan respon regional terhadap tantangan masa kini dan membantu negara – negara dalam memerangi pergerakan populasi ireguler yang meningkat”. Menindaklanjuti keputusan ini, Pertemuan tingkat Menteri ke-4 di bulan Maret 2011 mendukung rekomendasi Kelompok Ad Hoc untuk membentuk sebuah “Kerangka Kerjasama Regional” atau “Regional Cooperation Framework” (RCF) dengan sangat memperhitungkan berbagai saran diformulasikan dan diajukan oleh UNHCR.

Keberlanjutan diskusi mengenai cara terbaik menerapkan RCF secepatnya, didasarkan pada apa yang secara progresif menjadi cara pandang konsensual yang melihat perpindahan yang dipaksakan dan pergerakan tercampur sebagai hal – hal yang akan tetap menjadi isu global dalam hal besar dan kompleksitas permasalahan, yang membutuhkan adanya kejasama antar negara dalam tingkatan regional. Dalam pandangan UNHCR,  dorongan untuk bermigrasi akan terus berkembang dengan adanya populasi yang bermobilitas tinggi, pertumbuhan populasi, dan berbagai faktor sosial, ekonomi, politik dan hak asasi manusia. Mobilitas adalah sesuatu yang tidak dapat dihalangi, karena itu, bukan mencegah pergerakan yang perlu dilakukan, namun bagaimana menangani berbagai isu yang sensitif dengan lebih baik.

Hal ini akan tetap menjadi tantangan utama Bali Process dalam beberapa tahun yang akan datang.

Sumber : http://www.unhcr.or.id/id/bali-process-id

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s